Senin, 22 Juni 2015

Pemandian Air Panas "Pingit" di Gumelem

Desa Gumelem terdiri dari Desa Gumelem Wetan dan Gumelem Kulon berada di wilayah Kecamatan Susukan, sekitar 30 kilometer dari ibukota Kabupaten Banjarnegara, Propinsi Jawa Tengah.
Desa Gumelem, khususnya Gumelem Wetan dengan wilayah yang cukup luas dan jumlah penduduk yang cukup banyak merupakan daerah peninggalan jaman kademangan dimana banyak peninggalan-peninggalan yang bersifat sejarah baik itu tempat, seni dan budaya, maupun adat-istiadatnya.
Terdapat beberapa tempat di Desa Gumelem Wetan yang dapat dijadikan sebagai obyek wisata.  Salah satu diantaranya adalah tempat pemandian air hangat ” Pingit “.

Pemandian air hangat “Pingit” merupakan pemandian yang bersumber pada mata air panas yang berasal dari pegunungan yang ada di Desa Gumelem Wetan, sehingga air panas ini mengandung belerang.  Kandungan belerang yang terdapat di dalam air ini mempunyai khasiat salah satunya dapat mengobati penyakit kulit.  Banyak orang mendatangi pemandian air hangat “Pingit” ini dengan berbagai tujuan.  Ada yang datang hanya sekedar berkunjung untuk menikmati wisata alam sepanjang jalan menuju lokasi, ada juga yang berkunjung karena ingin mengobati penyakit kulit yang dideritanya dengan cara mandi di pemandian tersebut.

Kesenian Ujungan Desa Gumelem


Tradisi ujungan adalah tradisi yang di lakukan oleh masyarakat Jawa Tengah Dan Jawa Barat. Tradisi ini merupakan tradisi untuk memohon kepada Allah untuk mendapatkan hujan yang dilakukan oleh sepasang laki-laki dewasa dengan menggunakan peralatan berupa sebilah rotan sebagai alat pemukulnya. Ritual yang dipimpin oleh seorang Wlandang (wasit) ini, biasanya diselenggarakan pada saat musim kemarau panjang. Pada musim ini para petani sangat membutuhkan air untuk mengairi sawah-sawahnya dan juga untuk memberi minum binatang ternak piaraannya seperti sapi, kerbau, kambing, dan lain sebagainya.
Konon, untuk mempercepat datangnya hujan, pemain Ujungan harus memperbanyak pukulan kepada lawannya hingga mengeluarkan darah. Dengan semakin banyaknya darah yang keluar akibat pukulan, maka semakin cepat pula hujan akan turun. Tradisi yang diselenggarakan pada mangsa kapat (keempat) dan kamo (kelima) di musim kemarau ini, pesertanya adalah orang laki-laki dewasa yang memiliki kemampuan menahan rasa sakit akibat pukulan rotan maupun menahan sakit saat terjadi benturan dengan lawan.
Seiring dengan berjalannya waktu, tradisi Ujungan kini hanya berkembang sebagai seni pertunjukan hiburan biasa. Walaupun demikian, ketentuan-ketentuan peraturan permainan Ujungan masih tetap mengacu pada Ujungan zaman awal munculnya tradisi ini, baik rotan yang dipakai sebagai alat pukul maupun Wlandang pertunjukan. Rotan yang dipakai harus memiliki tingkat kelenturan yang cukup baik, dengan panjang sekitar 40.125 cm dan diameter sekitar 1,5 cm. Ketentuan rotan yang dipersyaratkan seperti ini bertujuan untuk mengurangi rasa pedih bila disabetkan ke tubuh. Sedangkan seorang Wlandang harus memiliki keterampilan ilmu beladiri yang tinggi. Hal ini dimaksudkan agar apabila suatu saat salah satu pemain Ujungan tidak puas dengan hasil keputusan wasit dan mencoba untuk melawan wasit, maka wasit harus berani menerima tantangan itu.
Ritual Tradisi Ujungan terdapat di Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara, Propinsi Jawa Tengah, Indonesia.
Ujungan merupakan ritual tradisi yang menggabungkan tiga jenis seni, yaitu seni musik (Sampyong), seni tari-silat (Uncul), dan seni bela diri tongkat (Ujungan). Keistimewaan lain yang terdapat pada Tradisi Ujungan ialah terdapatnya sikap menjunjung tinggi nilai sportivitas, persaudaraan, rasa nasionalisme, dan semangat patriotisme sebagai generasi penerus bangsa.

Asal Usul Ujungan
Pada zaman kedemangan gumelem terjadi musim kemarau yang sangat panjang.
Warga sangat kesusahan mencari air, tetapi ada 2 orang warga menemukan sebuah mata air,
Yang diberinama MADU RASA.
Disana mereka berebut air, yang satu minta dialirkan ke sawah utara, sedangkan yang satu minta dialirkan ke sawah selatan.
Lalu mereka berkelahi menggunakan rotan, sampai ada orang yang melihatnya ia bernama SINGAKERTI.
Ia melihat kedua orang itu berkelahi, hingga kaki mereka mengeluarkan darah, dan SINGAKERTI pun melerai mereka.
Tetapi setelah itu turun hujan deras, sehingga mereka semua sangat bahagia, SINGAKERTI pun mempunyai ide, agar musim kemarau berakhir, SINGAKERTI pun meminta para pemuda beradu pukul menggunakan rotan jika musim kemarau terjadi.
Warga memberi nama peristiwa ini dengan Ujungan.
Ujungan berasal dari kata mujung yang berarti mencari hujan.
Dan sampai sekarang di desa GUMELEM jika terjadi musim kemarau, warga mengadakan ujungan.
Ujungan diadakan sebagai permohonan kepada Allah untuk mendapatkan hujan.


Mengenal Batik Gumelem Banjarnegara



Memakai batik bukan hanya sebagai kelengkapan sandang dan fashion, namun juga memakai sebuah karya seni. Begitulah seharusnya agar kita menjadi lebih bangga memakai karya warisan nenek moyang bangsa ini. Kita mengenal berbagai macam batik dan mungkin Anda juga sudah mengoleksinya. Ada batik Solo, Jogja, Pekalongan atau bahkan Madura yang sudah sangat familiar. Tapi pernahkah Anda mendengar batik Gumelem?.
DSC_0216
Di Kabupaten Banjarnegara Provinsi Jawa Tengah, tepatnya di Desa Gumelem Wetan dan Gumelem Kulon Kecamatan Susukan terdapat sentra kerajinan batik. Inilah kenapa dikenal dengan nama Batik Gumelem. Gumelem berjarak sekitar 40 KM ke arah barat daya dari ibukota Kabupaten Banjarnegara. Di sini terdapat puluhan industri rumahan yang tergabung dalam komunitas Usaha Kecil dan Menengah (UKM) produk kerajinan batik tulis Banjarnegara atau Batik Gumelem.
Untuk mencapai kawasan sentra batik ini bisa juga ditempuh lewat Kabupaten Banyumas, tepatnya di pinggir jalan raya Susukan. Di situ terpampang gapura besar bertuliskan Sentra Batik Gumelem Banjarnegara. Anda bisa mengunjungi gerai-gerai kecil yang menyatu dengan rumah warga. Di ruang tamu biasanya para pengrajin memajang koleksi kain batiknya maupun yang sudah berbentuk pakaian jadi. Selain berburu batik, tentunya Anda juga bisa melihat proses pembuatan batik secara langsung. Hitung-hitung bisa sekaligus berwisata di samping berburu batik.
DSC_0117Pemandangan Desa Gumelem
DSC_0183
DSC_0129
DSC_0130
DSC_0165Seperti halnya di daerah lain di Jawa yaitu Jogja, Solo dan Pekalongan, batik tulis memiliki corak khasnya masing-masing, yang kurang bisa dibedakan oleh orang awam seperti saya. Batik Gumelem memiliki corak khas yaitu udan liris dan rujak senthe yang diproduksi secara turun temurun oleh warga setempat. Ciri khas lainnya dari Batik Gumelem adalah warnanya yang didominasi oleh warna coklat, hitam dan kuning serta bermotif bunga-bunga. Meskipun dengan berkembangnya industri tekstil, kini lebih memiliki bermacam-macam warna.
Proses pembuatan Batik Gumelem melalui beberapa tahapan. Dengan menggunakan kain katun maupun sunforis, pertama-tama dibuat desain sesuai corak yang diinginkan. Kemudian dibatik mengikuti corak dengan menggunakan malam yang sudah dipanaskan. Selanjutnya, kain dicolet menggunakan warna merah, kuning atau warna lainnya. Setelah kering, kemudian warna hasil coletan tadi ditutup menggunakan malam untuk menyimpan warna pada saat proses pencelupan. Proses pencelupan ini bertujuan untuk mendapatkan warna lain pada satu kain. Setelah itu didiamkan, untuk kemudian dilorod dengan air mendidih yang dicampur aci atau tapioka untuk menghilangkan malam yang menempel pada kain. Kemudian batik dijemur dan setelah  kering baru disetrika atau dipress.
DSC_0139
DSC_0136
DSC_0160
DSC_0163Pemasaran Batik Gumelem ini memang belum seluas batik lainnya, masih sebatas untuk konsumsi masyarakat lokal. Namun bukan berarti tidak ada upaya untuk terus mengembangkan dan mendukung industri kecil rumahan sekaligus melestarikan warisan budaya lokal. Seperti halnya Pemerintah Kabupaten Banjarnegara yang mewajibkan pemakaian batik pada hari-hari tertentu. Termasuk dalam acara-acara budaya di Kabupaten Banjarnegara.
Salah satunya adalah Ibu Mirah yang memulai usahanya dari tahun 2007, pernah mendapat pesanan seragam batik untuk acara Festival Sungai Serayu beberapa waktu yang lalu. Dengan mempekerjakan beberapa pembatik yang juga merupakan tetangganya, dia berusaha memenuhi pesanan para pelanggannya. Mulai dari seragam sekolah, seragam kantor maupun seragam acara-acara khusus. Untuk satu kain batik kombinasi (proses cetak dan tulis) dibanderol dengan harga berkisar 70 ribu sampai 90 ribu rupiah , sedangkan untuk yang 100 persen tulis harganya bisa mencapai 200 ribu rupiah. Tentunya bukan harga yang mahal untuk sebuah karya seni.
DSC_0198
DSC_0200
DSC_0195Jadi bagi Anda yang berkesempatan melewati daerah Banjarnegara dan sekitarnya, tidak ada salahnya untuk mengunjungi sentra kerajinan Batik Gumelem. Selain mendukung berkembangnya industri lokal dalam negeri, juga mendukung meningkatnya perekonomian dan industri kecil di pedesaan. Keep exploring!

Petilasan Girilangan

Masyarakat Desa Gumelem, Kecamatan Susukan ternyata sangat bangga akan kekayaan dan keindahan alamnya, panorama yang menghiasi suasana desa menjadi daya tarik tersendiri bagi orang-orang dari luar desa. Dari sekian banyak lokasi dan obyek yang dapat dijadikan wisata beserta cerita-cerita yang berkembang . Di Desa Gumelem terdapat salah satu bukit panorama yang dinamakan Lembah Girilangan.
Ketinggian Puncak bukit memang tidak terlalu tinggi, namun dapat dirasakan kesejukan serta dapat menikmati keindahan panorama alam disekililingnya, di puncak bukit Girilangan terdapat peninggalan kuno dan mempunyai nilai sejarah tinggi yang dibangun sekitar abad 16 yaitu sebuah bangunan kuno yang terbuat dari kayu yang berbentuk cungkub atau makam serta tumpukan bata merah yang tertata rapi guna melindungi sebuah makam dari seorang yang Kharismatik di masa kejayaan Kerajaan Mataram, yaitu Ki Ageng Giring. Ki Ageng Giring yang juga bergelar Ki Ageng Pendersan, bukanlah penduduk asli Desa Gumelem dia adalah seorang pembesar yangdatang dari keluarga Kerajaan Mataram. Perjalanan Ki Ageng Giring hingga sampai di Gumelem ternyata banyak mengalami kendala dan halangan serta ujian dari yang Kuasa namun dengan bekal keimanan yang kuat wilayah demi wilayah dilaluinya disetiap atau dimana Ki Ageng Giring tinggal pastilah Ki Ageng Giring meninggalkan jejak atau petilasan yang hinggasaat ini dapat terlihat di Dukuh Bogem Desa Salamerta yang merupakan makam anaknya yang bernama Nawangsasi, di Dukuh Kramat Desa Dermasari terdapat petilasan yang di gunakan untuk menenangkan diri guna memohon  petunjuk kepada yang Kuasa.

Berbeda dengan dukuh, dusun, dan desa desa lain yang dilalui Ki Ageng Giring dalam usahanya
mensyiarkan ajaran Islam , Desa Gumelem nampaknya wilayah yang paling berarti bagi Ki
Ageng Giring. Ketika itu ki ageng giring beserta pengikut pengikutnya akan menempuh perjalanan dari Kramat Dermasari ke dukuh giring gunung kidul namun di dukuh Karang Lewas Ki Ageng Giring wafat karena usianya yang sudah sepuh. Sebelum meninggal beliau berpesan, beliau ingin dimakamkan di tempat yang tinggi atau di atas bukit.
Dengan rasa hormat, para pengikutnya memandikan jenazah Ki Ageng Giring di sumur Wringin Mbeji Desa Gumelem Kulon serta membuat keranda untuk membawa jenazah
meneruskan perjalanan ke Dukuh Giring di wilayah Kabupaten Gunung kidul. Dalam
perjalanan menuju ke sebuah tempat yang telah ditentukan para pengikut Ki Ageng Giring juga
dihadapkan oleh beberapa peristiwa yang mengejutkan hal ini memang Ki Ageng Giring
memiliki kelebihan atau kesaktian dalam masa hidupnya. Pengikut atau santri Ki Ageng Giring
adalah manusia biasa yang punya kemampuan sangat  terbatas sehingga di suatu tempat di kaki
Gunung Wuluh karena kelelahan , keranda yang digunakan untuk membawa jenazah Ki Ageng
Giring pun diletakan di atas tanah, karena makin lama makin berat, tidak selang berapa lama juga tanah yang menjadi tempat landasan keranda juga lama kelamaan menurun ( ambles ) atau
mendek. Dibukalah keranda jenazah Ki Ageng Giring. Seluruh pengikutnya yang setia bersama
Ki Ageng Giring menjadi kaget dan bingung karena jenazah Ki Ageng Giring ternyata tidak ada
lagi di dalam keranda atau hilang. Dalam kebingungan, seluruh pengikut Ki Ageng Giring
memohon petunjuk kepada Yang Maha Kuasa sehingga seluruh pengikutnya dan santrinya
sepakat untuk memakamkan keranda Ki Ageng Giring di sebuah bukit. Untuk menandai keranda jenazah Ki Ageng Giring dimakamkan ,masyarakat Desa Gumelem dan sekitarnya menamakan Bukit Girilangan, dengan arti kata Ki Ageng Giring hilang. Dan lokasi tanah
yang mendek hingga saat ini dikenal oleh masyarakat adalah Lemah Mendek.
Bukit Girilangan kian menjadi indah. Makam Ki Ageng Giring pun makin banyak yang mengunjungi atau berziarah, ini dapat menjadi bukti bahwa Ki Ageng Giring adalah seorang yang di masa hidupnya mempunyai karisma dan kewibawaan yang tinggi. Hingga pada jamanya juga ,Raja Mataram R.Sutawijaya yang bergelar di Panembahan Senopati Ing Alogo Panotogomo juga mengutus saudaranya yang bernama Ki Udhakusuma untuk merawat Makam Ki Ageng Giring di Bukit Girilangan. Sebagai utusan seorang raja yang akhirnya juga
menjadi Demang Pertama di Gumelem, dalam usahanya merawat Makam Ki Ageng Giring di Girilangan adalah dengan membangun sebuah cungkub di sekitar tahun 1816 masehi di
lanjurtkan dengan membuat sebuah pagar keliling dari tumpukan bata merah dan sebuah

Gapura di depan cungkub. Rasa hormat, bakti terhadap kebesaran jiwa Ki Ageng Giring ternyata masih sangat kental dan melekat pada masyarakat Gumelem dan sekitarnya bahkan banyak sekali orang yang datang dari wilayah Kabupaten lain yang berziarah ke makam Ki Ageng Giring di Bukit Girilangan.



Sejarah Awal Mula Nama Desa Gumelem

Nama desa “Gumelem” berasal dari kata “digugu”dan “gelem” yang merupakan bermakna diperhatikan dan mau mengemban amanat. Asal nama tersebut berawal ketika kerajaan mataram masih Berjaya di tanah jawa ini. Ada seorang yang sakti bernama Mangir. Karena kesaktiannya Sultan Senopati ingin membunuh Mangir. Adapun tipu muslihat yang dilakukan oleh Sultan Senopati untuk membunuh Mangir. Sultan senopati mempunyai seorang putri bernama roro kumbaran. Putri Roro Kumbaran pun menyamar menjadi pengamen untuk menarik hati Manggir, karena kecantikan Roro Kumbara maka Manggir pun jatuh hati terhadap Roro Kumbara. Setelah beberapa lama, Manggir pun mengetahui bahwa istrinya tersebut merupakan putrid dari kerajaan mataram. Manggir pergi ke kerajaan mataram bermaksud untuk menjalin silaturahmi yang baik. Namun, dia malah dibunuh oleh Senopati. Anak pertama dari Manggir dan Roro Kumbara yaitu wanu wirokusumo, dibuang dan diasuh oleh kyai Demang yaitu kyai Karnadi. Tempat tinggal kyai Karnadi adalah daerah dimana desa gumelem ini berada. Disana wanu wirokusumo mempunyai seorang adik bernama Joko Sarjono. Mengetahui asal usulnya, Wanu Wirokusumo menginginkan tahta karena dia menganggap dirinya memiliki hak tahta dari kerajaan mataram. Wanu wirokusumo pergi merantau. Dengan usahanya ia berhasil menjadi bupati. Ia terus melakukan penyerangan ke kerajaan mataram. Di lain pihak, adiknya Joko Sarjono menyusul ke purworejo, ia bermaksud untuk mengabdi ke Jogja. Adapun sayembara yang sedang beredar di Jogja yaitu Barang siapa dapat menghentikan
pemberontakan besar-besaran yang dilakukan oleh Wanu Wirokusumo akan diangkat menjadi
adipati senopati. Joko Sarjono pun mengikuti sayembara tersebut, karena ia telah menjadi abdi
Jogja. Akhirnya bertemulah Joko Sarjono dan Wanu Wirokusumo di medan pertempuran,
meskipun bersaudara mereka tetap bertarung satu lawan satu. Karena kesaktian mereka
berdua, pertarungan terjadi berhari-hari bahkan sampai ke daerah gunung tidar. Setelah
bertarung berlangsung begitu lama, akhirnya nampak hasil dari pertarungan tersebut, dimana
Wanu kalah ditangan adiknya sendiri yaitu joko sarjono. Sebelum Wanu hendak dibunuh oleh
adiknya, ia berpesan kepada adiknya bahwa sebelum ia mati di tangan adiknya ia ingin agar
anak dan istrinya dirawat dengan baik, agar anaknya dirawat seperti merawat keponakannya
sendiri. Pemberontakan pun selesai. Kemudian tempat dimana wanu wirokusumo pernah
bersembunyi diberikan nama Gumelem, yang berasal dari kata “gugu” yang berarti menerima
mandate dari kakaknya dan “gelem” dimana adiknya mau merawat anak wanu wirokusumo
seperti keponakannya sendiri. Daerah tersebut tersembunyi dan tidak mudah diketahui.